Andalusia (711 - 1492 Masehi)
Bismillah. Tekad itu dipancangkan Thariq bin Ziyad. Sebanyak 7.000 orang pasukan
yang dipimpinnya -mereka suku Berber dan Arab- telah selamat tiba di dataran
Andalusia atau Spanyol. Mereka telah mengarungi selat yang memisahkan tanah
Maroko di Afrika Utara dengan Eropa itu. Tanpa ragu sedikit pun Thariq
memerintahkan untuk membakar kapal-kapalnya. Pilihannya jelas: terus maju untuk
menang atau mati. Tak ada kata untuk mundur dan pulang.
Peristiwa di
tahun 711 Masehi itu mengawali masa-masa Islam di Spanyol.Pasukan Thariq
sebenarnya bukan misi pertama dari kalangan Islam yang menginjakkan kaki di
Spanyol. Sebelumnya, Gubernur Musa Ibnu Nushair telah mengirimkan pasukan yang
dikomandani Tharif bin Malik. Tharif sukses. Kesuksesan itu mendorong Musa
mengirim Thariq. Saat itu, seluruh wilayah Islam masih menyatu di bawah
kepemimpinan Khalifah Al-Walid dari Bani Umayah.
Thariq mencatat sukses.
Ia mengalahkan pasukan Raja Roderick di Bakkah. Setelah itu ia maju untuk
merebut kota-kota seperti Cordova, Granada dan Toledo yang saat itu menjadi
ibukota kerajaan Gothik. Ketika merebut Toledo, Thariq diperkuat dengan 5.000
orang tentara tambahan yang dikirim Musa.
Thariq sukses. Bukit-bukit di
pantai tempat pendaratannya lalu dinamai Jabal Thariq, yang kemudian dikenal
dengan sebutan Gibraltar. Musa bahkan ikut menyebarang untuk memimpin sendiri
pasukannya. Ia merebut wilayah Seville dan mengalahkan Penguasa Gothic,
Theodomir. Musa dan Thariq lalu bahu-membahu menguasai seluruh wilayah Spanyol
selatan itu.
Pada 755 Masehi, Abdurrahman -keturunan Keluarga Umayah
yang lolos dari kejaran penguasa Abbasiyah-tiba di Spanyol. Abdurrahman
Ad-Dakhil, demikian orang-orang menjulukinya. Ia membangun Masjid Cordova, dan
menjadi penguasa tunggal di Andalusia dengan gelar Emir. Keturunannya
melanjutkan kekuasaan itu sampai 912 Masehi. Kalangan Kristen sempat mengobarkan
perlawanan "untuk mencari kematian" (martyrdom). Namun Dinasti Umayah di
Andalusia ini mampu mengatasi tantangan itu.
Abdurrahman Al-Aushat
kemudian menjadikan Andalusia sebagai pusat ilmu terpenting di daratan Eropa.
Pada 912, Abdurrahman An-Nasir mendengar kabar bahwa khalifah Abbasiyah di
Baghdad tewas dibunuh. Ia lalu menggunakan gelar khalifah. Ia mendirikan
universitas Cordova dengan perpustakaan berisi ratusan ribu buku.
Hal
demikian dilanjutkan oleh Khalifah Hakam. Pusat-pusat studi dibanjiri ribuan
pelajar, Islam dan Kristen, dari berbagai wilayah. Ladang-ladang pertanian
Spanyol tumbuh dengan subur mengadopsi kebun-kebun dari wilayah Islam lainnya.
Sistem hidraulik untuk pengairan dikenalkan. Andalusia inilah yang mendorong era
pencerahan atau renaissance yang berkembang di Italia.
Kekacauan timbul
setelah Hakam wafat dan kendali dipegang Manshur Billah -seorang ambisius yang
menghabisi teman maupun lawan-lawannya. Kebencian masyarakat, baik Islam maupun
Kristen mencuat. Situasi tak terkendalikan lagi setelah Manshur Billah wafat.
Pada 1013, Dewan Menteri menghapuskan jabatan khalifah. Andalusia terpecah-pecah
menjadi sekitar 30 negara kota.
Dua kekuatan dari Maghribi sempat
menyatukan kembali seluruh wilayah itu. Pertama adalah Dinasti Murabithun
(1086-1143) yang berpusat di Marakesy, Maroko. Pasukan Murabithun datang buat
membantu kalangan Islam melawan Kerajaan Castilla. Mereka memutuskan untuk
menguasai Andalusia setelah melihat Islam terpecah-belah. Dinasti Muwahiddun,
yang menggantikan kekuasaan Murabithun di Afrika Utara, kemudin juga melanjutkan
kepemimpinan Islam di Andalusia (1146-1235). Di masa ini, hidup Ibnu Rusyd
-seorang pemikir besar yang banyak menafsirkan naskah Aristoteles.
Pada
1238 Cordova jatuh ke tangan Kristen, lalu Seville pada 1248 dan akhirnya
seluruh Spanyol. Hanya Granada yang bertahan di bawah kekuasaan Bani Ahmar
(1232-1492). Kepemimpinan Islam masih berlangsung sampai Abu Abdullah -meminta
bantuan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella-- untuk merebut kekuasaan dari ayahnya.
Abu Abdullah sempat naik tahta setelah ayahnya terbunuh. Namun Ferdinand dan
Isabella kemudian menikah dan menyatukan kedua kerajaan. Mereka kemudian
menggempur kekuatan Abu Abdullah untuk mengakhiri masa kepemimpinan Islam sama
sekali.
Sejak itu, seluruh pemeluk Islam (juga Yahudi), dikejar-kejar
untuk dihabisi sama sekali atau berpindah agama. Kekejian penguasa Kristen
terhadap pemeluk Islam itu dibawa oleh pasukan Spanyol yang beberapa tahun
kemudian menjelajah hingga Filipina. Kesultanan Islam di Manila mereka
bumihanguskan, seluruh kerabat Sultan mereka bantai.
Memasuki Abad 16,
Tanah Andalusia -yang selama 8 Abad dalam kekuasaan Islam-- kemudian bersih sama
sekali dari keberadaan Muslim.
sumber : www.pesantren.net
Visitors :3259 Org
Hits : 11268 hits
Month : 67 Users