Daulat Umayah I (661 - 670 Masehi)
Ini adalah periode pemerintahan Islam di bawah kekuasaan Keluarga Umayah. Para
ahli sejarah menunjuk kekuasaan ini berawal pada tahun 40 Hijriah atau 661
Masehi. Pendiri dinasti ini adalah Muawiyah anak Abu Sofyan. Abu Sofyan adalah
pemimpin Mekah yang menentang Rasul. Ia masuk Islam setelah kota Mekah
ditaklukkan oleh pasukan Islam dari Madinah.
Muawiyah semula adalah
Gubernur Syria berkedudukan di Damaskus. Ia memberontak pada Khalifah Ali bin
Abu Thalib, sampai Ali wafat dibunuh orang Khawarij. Pengikut Ali kemudian
mengangkat Hasan -anak Ali-sebagai khalifah baru. Namun Hasan, yang tak ingin
konflik, lalu mengikat perjanjian damai dengan Muawiyah. Jadilah Muawiyah
penguasa tunggal masyarakat muslim waktu itu.
Muawiyah memindah ibukota
negara dari Madinah ke Damaskus. Ia juga mengganti sistem pemerintahan. Hingga
masa Ali, pemimpin negara berlaku sebagai seorang biasa. Tinggal di rumah
sederhana, menjadi imam masjid, dan memenuhi kebutuhan sendiri secara biasa.
Muawiyah meniru sistem kerajaan untuk dirinya. Ia hidup bagai raja -dalam
benteng, bergelimang kemewahan, bepengawalan lengkap dengan kekuasaan mutlak.
Untuk jabatannya, ia menyebut diri sebagai "khalifatullah" ("wakil" Allah di
bumi) -istilah yang banyak dipakai para sultan kemudian.
Banyak yang
diperbuat oleh Dinasti Umayah. Antara lain dengan membangun dinas pos -termasuk
penyediaan kuda dan perlengkapannya. Mereka juga mengangkat Qadi atau hakim
sebagai profesi. Khalifah Abdul Malik mencetak uang sendiri dengan menggunakan
tulisan Arab sebagai pengganti uang Byzantium dan Persia. Administrasi
pemerintahan dibenahi. Bahasa Arab ditetapkan sebagai bahasa resmi pemerintahan.
Langkah ini dilanjutkan oleh anak Abdul Malik, Walid (705-715 Masehi).
Ia membangun panti-panti asuhan untuk orang-orang cacat. Pekerja untuk
rumah-rumah tersebut dibayarnya sebagai pegawai. Walid juga membangun
infrastruktur berupa jalan-jalan raya yang menghubungkan antar wilayah. Selain
itu ia juga membangun gedung-gedung pemerintah, masjid-masjid, bahkan juga
pabrik. Di masanya, masyarakat mencapai puncak kemakmurannya.
Namun
khalifah yang paling banyak dipuji adalah Umar bin Abdul Aziz (717-720). Ibunya
adalah cucu Umar bin Khattab. Ia lebih menekankan pembangunan moral dan sosial
dibanding fisik. Ia menolak jika dipilih menjadi khalifah semata karena dirinya
anak khalifah. Ia bahkan merangkul musuh-musuh Dinasti Umayah, termasuk kelompok
Syi'ah, untuk memilih khalifah yang baru. Sampai kemudian semua sepakat untuk
memilihnya sebagai khalifah.
Umar memberikan kebebasan beribadah kepada
masyarakat dari semua kelompok agama. Pajak yang membenani masyarakat pun ia
peringan. Ia juga disukai orang-orang non-Arab atau 'mawali'. Sebelum masa Umar
bin Abdul Aziz, warga non-Arab dianggap sebagai "warga kelas dua". Umar
mensejajarkan bangsa apapun tanpa kecuali.
Dalam kehidupan sehari-hari,
Umar bin Abdul Aziz mewarisi sikap kakek buyutnya, Umar bin Khattab. Bedanya :
Umar bin Khattab dikenal sebagai seorang bertemperamen keras, sedangkan Umar bin
Abdul Aziz adalah seorang yang lembut. Kesederhanaannya akan selalu dikisahkan
sepanjang sejarah. Di antaranya adalah ketika ia -suatu malam- bekerja di
ruangannya yang berpenerangan lampu. Lalu anaknya datang minta izin untuk bicara
dengannya. Umar bertanya, pembicaraannya itu untuk keperluan negara atau
keluarga. "Urusan keluarga," kata anaknya. Umar lalu mematikan lampu itu. Lampu
tersebut dinyalakan dengan minyak yang dibiayai negara.
Ia tak mau
urusan keluarga menggunakan lampu dengan minyak negara. Sayang, Umar tidak lama
memimpinn negara. Tiga tahun setelah diangkat, ia wafat. Setelah Umar, para
khalifah lebih banyak hidup bergelimang kemewahan. Moralitas mereka jatuh.
Kepercayaan rakyat merosot tajam. Khalifah Hisyam anak Abdul Malik berusaha
mengatasi itu. Namun keadaan telanjur tak terkendali. Pada tahun 750 Masehi,
setelah sekitar 90 tahun berkuasa, Daulat Umayah pun runtuh.
sumber :
www.pesantren.net
Visitors :3263 Org
Hits : 11294 hits
Month : 71 Users